Langsung ke isi

Gravity (Sebuah Ide Cerita Dari Masa Kecil)

Salah satu hobi yang sampai sekarang tidak pernah bosan saya lakukan adalah nonton film. Dari mulai nonton di bioskop kecil yang ada penjual es pocong di dalam studionya, bioskop mewah di bilangan Solo Baru yang sekarang tinggal bangkainya, Layar Emas di RCTI di tahun 90’an, bioskop kecil yang tadi jadi agak lumayan dengan dua studio dan tidak ada penjual es pocong lagi, VCD bajakan, 21 pertama di Solo, DVD bajakan, bioskop-bioskop besar di Jakarta sampai dengan menghadiri beberapa festival film. Semuanya saya lakukan dengan suka cita seolah nonton film itu mendapat pahala.

Bagi anak 90an di era Orde Baru pasti tahu kalau program Layar Emas yang biasa dimulai pada pukul 20.00 akan dipotong oleh relay Dunia Dalam Berita dari TVRI dan kalau sedang apes akan ditambah dengan Laporan Khusus yang durasinya hanya diketahui oleh Tuhan dan Soeharto. Semua orang pasti benci ini apalagi kalau film di Layar Emas lagi seru-serunya. Saya sangat membencinya.
Read more…

Amores Perros

Tugas manusia adalah membuat rencana-rencana dalam hidupnya lalu Tuhan (sebagai pencipta adalah hakNya untuk) ikut campur dalam rencana-rencana itu dan memutuskan rencana mana yang disetujuiNya atau seringkali menolak semua rencana yang dibuat manusia lalu menggantinya dengan rencana yang benar-benar baru dengan tanda “APPROVED” di atasnya. Tuhan adalah sutradara, begitu katanya mengutip tagline sebuah film. Di hari-hari terakhir kami bersama dia pernah berkata kisah cinta kami adalah contoh terbaik bagaimana Tuhan punya caranya sendiri untuk membuat kita tertawa. Aku sangat mencintainya, begitupun dia yang terlalu mencintaiku. Tapi hanya sebatas itu. Tuhan tak ingin kami hidup bersama. Kami tertawa. Lalu berciuman sebentar. Ciuman terakhir kami.
Read more…

A Good Day To End Die Hard Franchise

A-Good-Day-to-Die-Hard

Sampai film ke lima John McClane tetap tak bisa memberikan jawaban apakah masalah yang mengejar dia atau dia yang mengejar masalah. Rasanya McClane tak perlu mencari jawaban tersebut. Setelah nonton A Good Day To Die Hard saya pikir dia harus istirahat saja. Film terakhirnya cukup buruk.

Kali ini John McClane pergi ke Rusia untuk bertemu anaknya dan tentu saja dia bertemu masalah di sana. Masalah politik dalam negeri Rusia yang melibatkan senjata, CIA dan anaknya yang sama keras kepalanya, Jack McClane. Lalu bum bum bum, tembakan di sana sini. Tapi cuma itu yang ditampilkan film ini. “I’m on vacation!”, kata John McClane berkali-kali di film ini dan memang film ini seperti liburan yang garing.

Die Hard kehilangan jiwanya di film ini. Duo McClane yang keras kepala seharusnya bisa menjadi modal yang kuat untuk menjadikan film ini menarik tapi mereka tidak menggunakan itu secara maksimal. Humor-humor khas McClane di film ini juga terasa usang. Line-line garing dan entah apa itu maksudnya villain yang mantan penari, garing juga. Di usianya yang sudah tua, Bruce Willis sebagai John McClane sebenarnya tidaklah terlalu mengecewakan, dia masih mampu berlari-larian, menabrakkan mobil, angkat senjata dan mengucapkan sumpah serapah tapi itu tak bisa menutupi keburukan film ini. Trailernya dengan musik Symphony No. 9 in D Minor itu jauh lebih bagus ketimbang filmnya.

Yippee ki yay, McClane…. oh yes and The 007 of Plainfield, New Jersey!
stars-black-2-5

Mbah

Malam ini hujan deras. Mbah Sunarti tahu itu artinya tidak akan banyak yang datang ke alun-alun kota yang berarti juga tidak akan banyak yang membeli kacang rebus yang dijualnya bersama Mbah Mitro, suaminya.

Udara semakin dingin. Hujan deras ditambah pula angin kencang menerpa memaksa Mbah Sunarti merapatkan jaket lusuh miliknya. Dipandanginya Mbah Mitro yang sibuk membetulkan tenda tempat mereka berteduh. Lelaki renta itu telah menjadi pendamping hidupnya selama 60 tahun. Sudah beribu kali udara dingin seperti malam ini mereka hadapi bersama. Pun juga udara panas yang menyengat. Dan kesunyian yang semakin menjadi sejak sepuluh tahun terakhir. Sejak Mbah Mitro tak mampu lagi bicara.
Read more…

Menulis Untuk Masa Depan

Selain sok nulis di blog, saya juga suka nulis di word-nya google drive. Beda dengan blog ini, yang di Google Drive adalah versi uncensored. Semua saya tulis di situ tanpa tedeng aling-aling, toh cuma saya yang baca ini. Kebanyakan sih isinya curhat tak sampai, lagi kangen dia, lagi kesel, makan apa, nonton apa dan lain-lain. Kayak diary lah. Oh iya, saya juga punya aplikasi diary di handphone.

Dasarnya saya ini suka lupa jadilah menulis semacam diary itu sebagai pengingat. Misalnya saya lupa nama seseorang yg saya temui tahun lalu maka tinggal search kejadian itu “semacam diary” itu. Fitur “search” itu juga yang bikin saya lebih suka nulis diary di online daripada di buku. Daripada saya juga lupa naruh bukunya, kan?

Satu lagi tempat di mana saya suka nulis curhat adalah futureme. Di sini kita bisa nulis email untuk kita sendiri (atau orang lain) di masa depan. Kita tinggal nentuin kapan kita mau baca email itu. Dan memang email itu baru bisa dibaca setelah tanggal yang kita tentukan. Jadi kita gak bisa curang atau bakalan terjadi paradoks waktu. halah.

Saya biasa mengirimkan curhat-curhat saya ke masa 5 tahun mendatang dengan asumsi saya sudah lupa isi curhat. Inilah yang paling saya suka tentang futureme, dia suka mengejutkan saya :)

Dredd

Sebuah drug baru bernama Slo-mo sedang naik daun di kota distopia bernama Mega City One. Slo-mo mengakibatkan penggunanya merasakan waktu berjalan lebih lambat dari yang sebenarnya. Menonton Dredd seperti sedang memakai Slo-mo, semuanya berjalan lambat. Sebuah film yang membosankan.

Dredd, seorang hakim senior beserta Anderson, hakim pemula melakukan penangkapan di sebuah mega apartemen bernama The Peach Trees. Sebuah penangkapan biasa itu menjadi sebuah bencana ketika Dredd dan Anderson terkurung di dalamnya. Mengingatkan pada The Raid? Yak, memang banyak yang membandingkan Dredd dengan The Raid karena banyak kemiripan yang dimiliki keduanya. Tapi The Raid jauh lebih baik.

Keduanya mengandalkan aksi laga, nyaris tak ada cerita atau sekadar basa-basi, tapi The Raid mampu menjaga ketegangan sepanjang film. Sementara Dredd terlalu kuat bagi penghuni The Peach Trees sehingga mereka mudah mati. Tak ada perlawanan berarti.

Looper

Time travel dengan segala paradoksnya adalah salah satu premis film yang saya suka. Secara umum ada dua logika perjalanan waktu yang sering dipakai dalam film-film. Pertama adalah perjalanan waktu bisa mengubah sejarah. Artinya kalo kita kembali ke masa lalu melakukan sesuatu maka masa depan bisa berubah. Back To The Future dan Hermione di Harry Potter memakai logika ini. Kedua, takdir dan masa depan tak bisa diubah. Artinya apapun yang kita lakukan ketika kembali ke masa lalu tak bisa mengubah kejadian di masa depan. 12 Monkeys memakai konsep logika ini.

Saya hanya merasa apapun konsep time travel yang dipakai film ini membuat apa yang dilakukan Joe di akhir film ini terasa sia-sia.

Filmnya sih oke cuma itu saja yang membuat saya agak kecewa berpikir.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 808 pengikut lainnya.