Krakal, Sehari Setelah Natal 2011

Januari 6, 2012


2011

Desember 30, 2011

Ini bukan tentang kaleidoskop apalagi resolusi, pada akhirnya ini cuma tentang curahan hati.

Boleh dibilang di tahun 2011 hidup saya baru dimulai di Bulan Juni ketika saya mulai untuk pertama kalinya merantau. Ke Jakarta. Sebelum itu saya pun lupa melakukan apa.

Tempat kerja baru. Suasana baru. Teman baru. Kota baru. Kota yang sepertinya tak kan pernah habis diarungi (atau saya belum terlalu berminat mengarunginya hehe). Alhamdulillah Jakarta selalu baik kepada saya.
Baca entri selengkapnya »


Dapoe Aceh, 17 Desember 2011

Desember 19, 2011

sepertinya rempah-rempah serambi mekah itu tak mampu menyembunyikan hati yang lungkrah. dia ada dan nyata karena kamu ada di sana. seperti biasa, mencuri perhatian. sementara aku semakin tenggelam melamun di antara bulir serut timun. memandangimu menyantap mi aceh dan roti jala sambil bercerita apa saja. kemudian bertanya-tanya adakah ganja di masakan kita. bukan, ganja tak mampu menghadirkan rasa lungkrah kurasa. itu pasti cinta.


The Adventure of Tintin: The Secret of The Unicorn

November 14, 2011

Saya tidak terlalu menggemari motion capture dan sejauh saya ingat juga belum pernah secara serius membaca komik Tintin. Jadi ketika menonton film ini saya tidak berekspektasi apapun kecuali adanya nama Spielberg dan Peter Jackson di sana. Dan Spielberg kembali benar- benar bertualang. Sesuatu yang tidak saya lihat di seri terakhir Indiana Jones.

Menonton Tintin seperti naik rollercoaster, dalam arti sebenarnya– siapkan plastik bila perut anda lemah. Spielberg sangat bermain-main dengan kameranya. Camera work-nya, terlepas dari dibuat untuk memenuhi kebutuhan versi 3D-nya, terlihatlah sangat mengagumkan. Bagaimana Spielberg mengubah Kota Bhaggar menjadi ajang roller coaster bagi Tintin dan musuh-musuhnya adalah pengalaman menonton yang luar biasa. Kalau tidak boleh dikatakan agak memusingkan.

Tapi The Secret of The Unicorn juga bukan film yang sempurna. Yang menjadi kelemahan dari film ini adalah gaya berceritanya. Oke ceritanya memang bagus tapi Spielberg lupa bahwa film ini juga punya penonton yang ingin ikut bertualang juga. Spielberg tak memberi kesempatan itu. Spielberg bertualang sendiri di film ini. Penonton seperti tak diajak bertualang atau memecahkan misteri yang ada. Segalanya berlangsung begitu cepat bahkan terkesan terburu-buru dan tiada kesan pada akhirnya. Sayang sekali.


Real Steel

November 3, 2011

di tahun 2020 ketika tinju manusia tidak digemari lagi maka Michael Kenton, seorang mantan petinju beralih profesi menjadi “pilot” robot petinju. dia kehilangan segalanya termasuk robot terakhirnya ketika Max Kenton, anak kandung yang tak pernah dikenalnya hadir ke dalam hidupnya. lalu dimulailah petualangan bapak-anak ini di dunia tinju robot yang brutal.

Real Steel menggabungkan beberapa resep film yang sudah banyak dibuat: cerita underdog, hubungan bapak-anak, keluarga, tinju dan robot. dalam Real Steel, kisah underdog-nya mungkin digambarkan agak berlebihan tapi semua itu rasanya bisa diterima karena hubungan Michael dan Max sebagai bapak dan anak sungguhlah manis dan menjadi bagian paling oke dari film ini. sifat keras kepala keduanya banyak melahirkan adegan komedi segar buat film ini. ditambah lagi dengan penampilan Dakota Goyo yang cemerlang sebagai anak sebelas tahun yang super tengil. speech-nya di atas ring adalah bagian terbaik dari film ini. membuat saya sempat meneteskan sedikit air mata bahagia :-)

adegan tinju para robot di film ini berhasil meng-KO secara telak Transformers yang penuh ledakan tak berarti itu. hanya ada satu yang masih saya bingung mengenai robot di film ini, terutama sensor peniru gerak milik Atom yang tidak konsisten, terkadang sensornya bergerak seperti cermin tapi kadang juga bergerak seperti bayangan.

ah tapi itu masalah teknis belaka. Real Steel tetaplah film keluarga yang menarik.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 270 pengikut lainnya.