She looks like the real thing
She tastes like the real thing
My fake plastic love
But I can’t help the feeling
KEPADA DIAN Written, Produced, & Directed by Andi Purwanto
Dian tercinta, Tujuh tahun sudah sejak kau dan kapal pesiarmu merapat untuk pertama kalinya di pelabuhan kecilku. Sejak saat itu pula tak bisa kuhindari rasa cinta yang amat sangat kepada dirimu. Pernah kucoba menampik kenyataan itu dengan pergi memancing ikan, menyelam memandangi karang, berlarian di sepanjang pantai, minum kelapa muda sampai mabok, ataupun membangun istana pasir tapi hal itu sia-sia saja karena pesonamu telah menyedot sebagian besar perhatianku di pelabuhan kecil itu. Tetap saja tak bisa ku enyahkan kenyataan bahwa aku tergila-gila kepadamu. Dian, andai saja kau tahu….. mmmh atau lebih tepatnya lagi andai saja aku lebih berani mengayuh perahu kecilku menembus badai terbesar menuju rumah pantaimu dan mengatakan semuanya padamu. Tapi aku tak punya keberanian itu. Bukan karena aku takut pada badai terbesar itu tapi aku lebih khawatir pada kesiapan perahu kecilku yang malang itu. Kau tahu sendiri kan bagaimana keadaannya? Aku hanya bisa berusaha dan berdoa agar bisa membeli kapal sungguhan yang pada saatnya nanti mampu menembus badai terbesar yang membentang di antara aku dan rumah pantaimu. Tapi saat itu tak juga kunjung tiba. Hingga suatu hari aku mendengar dari beberapa orang di pelabuhan kecil kalau kau akan segera meninggalkan pelabuhan kecil ini untuk melanjutkan perjalananmu mengarungi samudera seperti impian yang pernah kau ceritakan. Kupikir saat itu adalah saat-saat yang kunantikan karena aku akan berpisah denganmu dan tentunya dengan rasa cintaku padamu yang telah memberiku siksaan terindah ini. Tapi ternyata tidak. Saat kau melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan pelabuhan kecil itu, aku merasa dan menjadi sadar untuk pertama kalinya (sejak mengenalmu aku menjadi gila, kamu tahu itu kan?) bahwa aku tak benar-benar ingin berpisah denganmu. Entah makhluk apa yang merasukiku saat itu hingga kuputuskan untuk mencuri sebuah perahu nelayan yang sedang tertambat di pelabuhan kecil sebagai cara untuk mengikuti perjalananmu meski harus ke ujung dunia. Pikirku saat itu. Dian yang penuh pesona, Ternyata untuk sekedar mengikuti perjalananmu saja sulitnya bukan main. Mesin perahu milik nelayan yang ku curi itu hanya bertahan beberapa hari karena kehabisan bahan bakar. Untunglah masih ada dayung di kapal itu, tapi ternyata aku tak cukup punya tenaga untuk terus mengikuti perjalananmu hanya dengan menggunakan dayung. Aku sempat menyerah. Tapi begitulah Dian, setiap kali aku berpikir untuk menyerah saja, selalu ada orang-orang baik yang memberiku tumpangan. Tak kurang dari kapal tanker Pertamina, kapal selam, Dewa Ruci, kapal wisata, kapal perang, dan ribuan kapal nelayan dari seluruh penjuru dunia telah memberiku tumpangan. Tidak hanya memberi tumpangan, mereka juga memberiku semangat, nasehat, biaya, makan atau sekadar berbagi pengalaman tentang pencarian cinta mereka yang menjadikanku semakin kaya dalam pengalaman. Dian yang indah, Satu hal yang tidak bisa kulupa dari perjalanan mengikutimu ini adalah setiap kali senja tiba. Saat itu kau pasti berdiri di haluan kapal (seperti yang dilakukan Rose Dawson di Film Titanic, begitu kata temanku) untuk memandangi senja yang mulai tenggelam berwarna kuning keemasan seperti lempengan baja yang terbakar. Di saat itulah aku berada di samping kapalmu untuk mengirimkan tanda-tanda dengan bendera semafor yang terbaca : “Aku Mencintaimu” atau kadang-kadang kukirimkan pula potongan-potongan puisi favoritku dengan menggunakan bendera semafor itu. Di atas haluan itu kamu tersenyum. Apapun arti senyuman itu, percayalah, aku suka. Dian yang cantik, Perlu kau ketahui karena aku yakin kau belum tahu bahwa hanya karena cinta aku nekat mengikutimu dalam perjalanan yang melelahkan itu. Dan cinta ternyata tak bisa menjadikanku menjadi manusia yang tahan banting. Aku lelah, Dian. Maka hari ini, dengan bantuan kapal dari para aktivis Green Peace, dengan susah payah dan sedikit memaksa aku berusaha untuk naik ke kapalmu guna menyampaikan surat ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku. Itu saja, kau paham bukan? Aku tahu kau pandai. Kau tak perlu memberikan komentar apalagi jawaban. Aku terlalu takut untuk mendengar jawaban. Jawaban lebih menyiksa daripada sebuah pertanyaan. Dian yang manis, Saat kau baca surat ini, mungkin aku sudah menjadi backpacker, aktivis Green Peace atau terdampar di satu pulau tersunyi seperti yang dialami Tom Hank di film Cast Away. Tapi percayalah Dian, dimanapun kau akan singgah di tiap pelabuhan di dunia ini nantinya, di sana kau akan disambut dengan satu baliho besar yang telah kusewa khusus untukmu dengan tulisan besar-besar : Dalam Diam : Andi Mencintaimu. Percayalah. Dari yang menyewa baliho itu, Andi Purwanto P.S : Kalau kau (memang benar-benar) ingin membalas surat ini, tak perlu repot-repot mengirimkannya padaku. Aku akan mengambil sendiri surat balasan itu suatu hari nanti. Percayalah, janji ini untukmu.