Suara Itu

Malam belum terlalu larut tapi kantor sudah sepi. Tidak ada orang lagi kecuali aku yang sepenuh hati sedang menyelesaikan pekerjaan demi kelancaran acara besar di kantor akhir bulan ini. Kombinasi kesendirian, dingin hujan sejak sore dan kerjaan yang tak kunjung habis membuatku mendamba secangkir kopi.

Sambil berjalan ke pantry, ku intip kantor sebelah lampunya juga sudah dimatikan. Tampaknya sudah tak ada orang lagi di lantai ini. Hanya aku.

Kopi sudah jadi. Saatnya melanjutkan ker…. twitteran. Timeline mulai berjalan lambat. Mungkin memang hanya aku yang terlalu bodoh untuk tetep bekerja di malam yang dingin dan bergerimis ini. Dan bukannya berlindung, tidur nyenyak di bawah selimut.

Di antara klak-klak keyboard, klik-klik mouse dan sruputan kopi yang tinggal ampasnya tiba-tiba perutku bergejolak. Sudah hidup puluhan tahun tapi perut ini tetap saja belum mampu beradaptasi dengan biji kopi yang kucintai. Aku setengah berlari menuju toilet.

Beberapa lampu koridor sudah dimatikan, tandanya sudah malam sudah semakin. Begitupun lampu toilet. Hanya lampu kecil yang menyala membuat suasanya toilet dengan dua bilik ini menjadi temaram.

Aku segera masuk ke salah satu biliknya. Kulepas celana dan segera duduk. Kukerahkan tenaga, mengedan agar semua ini cepat selesai. Tiba-tiba dari bilik sebelah kudengar suara itu.

“PLUNG!”

Aku yakin aku sendirian di toilet malam itu.

(terinspirasi oleh teman saya: Intan)


Maka Puasa Tiba Jika

image


Karena Jarang Menemukan Tempat Parkir Mall di Jakarta Sesepi Ini

image


Tentang Burung Hantu

“Hanya burung bersuara merdu yang dikurung. Burung hantu tidak dimasukkan sangkar”– Jalaludin Rumi

Entah memang demikian adanya atau kalimat di atas tidak lain hanya rekaan Rumi belaka tapi kalimat tersebut mengingatkan pada sebuah cerita di masa kecil saya. Sebuah cerita yang sedkit banyak membuktikan Rumi tidak salah.

Di depan rumah saya di kampung terdapatlah sebuah kebun kosong dengan beberapa pohon jati yang tinggi dan besar. Suatu hari dari kebun tersebut terdengar suara burung hantu. Bukan hal yang aneh sebenarnya mengingat berbagai macam hewan bisa muncul dari kebun itu tapi suara itu tidak hilang hingga beberapa hari. Mungkin tidak ada yang peduli juga.

Hingga suatu hari burung hantu yang kami anggap mengeluarkan suara magis di malam-malam sebelumnya tiba-tiba saja jatuh ke tanah. Entah apa sebabnya. Ayah saya yang waktu itu kemudian menangkapnya juga tidak mengerti. Kemudian ayah menempatkannya ke sebuah sangkar. Begitu masuk ke dalam sangkar, burung tersebut sempat terbang berontak seperti ingin membebaskan diri. Artinya burung tersebut jatuh bukan karena tidak bisa terbang. Itulah pemberontakan pertama dan terakhir dari burung itu. Setelahnya, dia hanya diam dan tidak melakukan apa-apa.

Tidak juga bersuara dan juga makan. Kami sudah memberikan semua makanan yang kami kira adalah makanan burung hantu tapi dia tidak bergeming sedikitpun. Dia tetap puasa. Dia hanya diam nangkring di tengah-tengah pijakan kaki di dalan sangkar dengan mata terbuka lebar khas burung hantu. Saya selalu mengira dia tidak tidur selama di dalam sangkar. Hanya diam saja. Tapa bisu.

Akhirnya kami takut sendiri. Kami takut burung tersebut akan mati di rumah kami. Setelah kurang lebih seminggu, kami membawa sangkar burung tersebut ke pinggir kebun kosong. Setelah pintu sangkar terbuka, burung tersebut langsung melesat terbang dan menghilang. Malamnya kami mendengar suara burung hantu lagi.

Demikian.


Tentang Gadget di Bioskop

Sepertinya akan menyenangkan apabila sebagian keuntungan bioskop-bioskop di Indonesia itu digunakan untuk menambahkan sebuah alat yang bisa mengeblok sinyal seluler di dalam studio. Saya sungguh tidak mengerti bagaimana bisa seseorang yang membayar mahal untuk menonton film pada akhirnya sibuk sendiri dengan gadget miliknya. Membalas pesan, ngetwit atau mengupdate path dan facebook mereka. Silahkan bilang berlebihan tapi buat saya nonton film itu seperti ibadah. Begitu masuk studio, saya biasanya langsung memasang handphone dalam kondisi flight mode karena saya tidak mau kekhusukan menonton saya terganggu oleh pesan atau bahkan telepon. Toh cuma sekitar dua jam.

Pernah suatu kali, seorang bapak mengajak anaknya menonton film yang seharusnya tidak cocok untuk seumuran dia. Itu kesalahan pertama. Kesalahan kedua adalah seperempat durasi dari film dia habiskan dengan mengobrol dengan seseorang di handphone. Saya sungguh tak mengerti.

Satu lagi, bayangkan anda tengah tidur lelap sambil mimpi sangat indah lalu tiba-tiba teman anda mengarahkan sebuah lampu sorot berdaya tinggi ke arah mata anda yang sedang tertutup. Sekali lagi mungkin berlebihan tapi begitulah yang saya rasakan bila anda menyalakan gadget di dalam studio. Di tempat yang dikondisikan sangat gelap tentu saja cahaya kecil dari layar handphone berukuran 4 inch saja akan sangat menyita perhatian dan juga menyilaukan bila dari jarak dekat. Apalagi bila anda menyalakan gadget berupa tablet yang paling tidak berukuran 8 inch saat film sedang berlangsung. Saya sih sangat terganggu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 809 pengikut lainnya.