Kepada Dian

Dikirim Uncategorized pada Maret 18, 2009 oleh Pencuri

She looks like the real thing

She tastes like the real thing

My fake plastic love

But I can’t help the feeling

KEPADA DIAN Written, Produced, & Directed by Andi Purwanto

Dian tercinta, Tujuh tahun sudah sejak kau dan kapal pesiarmu merapat untuk pertama kalinya di pelabuhan kecilku. Sejak saat itu pula tak bisa kuhindari rasa cinta yang amat sangat kepada dirimu. Pernah kucoba menampik kenyataan itu dengan pergi memancing ikan, menyelam memandangi karang, berlarian di sepanjang pantai, minum kelapa muda sampai mabok, ataupun membangun istana pasir tapi hal itu sia-sia saja karena pesonamu telah menyedot sebagian besar perhatianku di pelabuhan kecil itu. Tetap saja tak bisa ku enyahkan kenyataan bahwa aku tergila-gila kepadamu. Dian, andai saja kau tahu….. mmmh atau lebih tepatnya lagi andai saja aku lebih berani mengayuh perahu kecilku menembus badai terbesar menuju rumah pantaimu dan mengatakan semuanya padamu. Tapi aku tak punya keberanian itu. Bukan karena aku takut pada badai terbesar itu tapi aku lebih khawatir pada kesiapan perahu kecilku yang malang itu. Kau tahu sendiri kan bagaimana keadaannya? Aku hanya bisa berusaha dan berdoa agar bisa membeli kapal sungguhan yang pada saatnya nanti mampu menembus badai terbesar yang membentang di antara aku dan rumah pantaimu. Tapi saat itu tak juga kunjung tiba. Hingga suatu hari aku mendengar dari beberapa orang di pelabuhan kecil kalau kau akan segera meninggalkan pelabuhan kecil ini untuk melanjutkan perjalananmu mengarungi samudera seperti impian yang pernah kau ceritakan. Kupikir saat itu adalah saat-saat yang kunantikan karena aku akan berpisah denganmu dan tentunya dengan rasa cintaku padamu yang telah memberiku siksaan terindah ini. Tapi ternyata tidak. Saat kau melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan pelabuhan kecil itu, aku merasa dan menjadi sadar untuk pertama kalinya (sejak mengenalmu aku menjadi gila, kamu tahu itu kan?) bahwa aku tak benar-benar ingin berpisah denganmu. Entah makhluk apa yang merasukiku saat itu hingga kuputuskan untuk mencuri sebuah perahu nelayan yang sedang tertambat di pelabuhan kecil sebagai cara untuk mengikuti perjalananmu meski harus ke ujung dunia. Pikirku saat itu. Dian yang penuh pesona, Ternyata untuk sekedar mengikuti perjalananmu saja sulitnya bukan main. Mesin perahu milik nelayan yang ku curi itu hanya bertahan beberapa hari karena kehabisan bahan bakar. Untunglah masih ada dayung di kapal itu, tapi ternyata aku tak cukup punya tenaga untuk terus mengikuti perjalananmu hanya dengan menggunakan dayung. Aku sempat menyerah. Tapi begitulah Dian, setiap kali aku berpikir untuk menyerah saja, selalu ada orang-orang baik yang memberiku tumpangan. Tak kurang dari kapal tanker Pertamina, kapal selam, Dewa Ruci, kapal wisata, kapal perang, dan ribuan kapal nelayan dari seluruh penjuru dunia telah memberiku tumpangan. Tidak hanya memberi tumpangan, mereka juga memberiku semangat, nasehat, biaya, makan atau sekadar berbagi pengalaman tentang pencarian cinta mereka yang menjadikanku semakin kaya dalam pengalaman. Dian yang indah, Satu hal yang tidak bisa kulupa dari perjalanan mengikutimu ini adalah setiap kali senja tiba. Saat itu kau pasti berdiri di haluan kapal (seperti yang dilakukan Rose Dawson di Film Titanic, begitu kata temanku) untuk memandangi senja yang mulai tenggelam berwarna kuning keemasan seperti lempengan baja yang terbakar. Di saat itulah aku berada di samping kapalmu untuk mengirimkan tanda-tanda dengan bendera semafor yang terbaca : “Aku Mencintaimu” atau kadang-kadang kukirimkan pula potongan-potongan puisi favoritku dengan menggunakan bendera semafor itu. Di atas haluan itu kamu tersenyum. Apapun arti senyuman itu, percayalah, aku suka. Dian yang cantik, Perlu kau ketahui karena aku yakin kau belum tahu bahwa hanya karena cinta aku nekat mengikutimu dalam perjalanan yang melelahkan itu. Dan cinta ternyata tak bisa menjadikanku menjadi manusia yang tahan banting. Aku lelah, Dian. Maka hari ini, dengan bantuan kapal dari para aktivis Green Peace, dengan susah payah dan sedikit memaksa aku berusaha untuk naik ke kapalmu guna menyampaikan surat ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku. Itu saja, kau paham bukan? Aku tahu kau pandai. Kau tak perlu memberikan komentar apalagi jawaban. Aku terlalu takut untuk mendengar jawaban. Jawaban lebih menyiksa daripada sebuah pertanyaan. Dian yang manis, Saat kau baca surat ini, mungkin aku sudah menjadi backpacker, aktivis Green Peace atau terdampar di satu pulau tersunyi seperti yang dialami Tom Hank di film Cast Away. Tapi percayalah Dian, dimanapun kau akan singgah di tiap pelabuhan di dunia ini nantinya, di sana kau akan disambut dengan satu baliho besar yang telah kusewa khusus untukmu dengan tulisan besar-besar : Dalam Diam : Andi Mencintaimu. Percayalah. Dari yang menyewa baliho itu, Andi Purwanto P.S : Kalau kau (memang benar-benar) ingin membalas surat ini, tak perlu repot-repot mengirimkannya padaku. Aku akan mengambil sendiri surat balasan itu suatu hari nanti. Percayalah, janji ini untukmu.

M.U.A.K !!!

Dikirim Uncategorized pada Januari 28, 2009 oleh Pencuri

Hati-hati. Pelacur politik bermuka mesum bertebaran di mana-mana. Dari beceknya pasar, panasnya jalanan hingga dinginnya hotel berbintang. Mulutnya manis serupa iblis. Tampangnya menawan bagaikan setan. Janjinya tinggi-tinggi seolah mereka bisa berjalan tanpa menyentuh bumi.

M.U.A.K !!!

Komedi Tuhan di Tengah Hujan

Dikirim Uncategorized pada Januari 12, 2009 oleh Pencuri

Siang hari ini, di tengah perjalanan, hujan deras menghampiri. Saya menepi untuk memakai mantel hujan. Seorang ibu juga menepi di depan saya.

Saat saya memakai mantel hujan di tengah hujan yang semakin mengganas, saya lihat ada yang aneh di motor ibu itu. Satu sekrup di plat nomor bagian belakang hilang sehingga plat nomer itu hampir lepas.

“Bu, plat nomernya hampir lepas tu. Eman-eman kalo sampe jatuh”

Di tengah usahanya memakai mantel hujan, si ibu melihat plat motornya yang menggantung hampir lepas.

“Oh iya, makasih mas”
“Dilepas sekalian aja bu, ntar dibenerin di rumah”
“Iya mas”

Ibu itu lalu berjongkok di belakang motornya untuk melepas satu sekrup yang tersisa di plat nomornya.

“Bisa nggak bu?”
“Bisa mas, makasih”
“Ya bu, saya duluan ya”
“Mari mas”

Hampir saja saya melaju dengan kecepatan supersonik untuk menembus hujan lebat kalo saja ibu itu tidak memanggil saya.

“Mas, tunggu !!!”

Saya berhenti lagi.

“Apa bu?”
“Itu plat nomernya juga hampir lepas”

Si ibu menunjuk plat nomor saya yang bagian belakang. Saya liat plat nomor saya, ah benar juga. Sekrupnya masih lengkap tapi satu murnya hilang membuat plat nomer ini tidak terpasang dengan benar, pantesan aja dari tadi ada suara aneh di motor saya.

Begitulah cara Tuhan melawak. Saya sering menyuruh teman atau orang lain untuk menjadi benar tapi saya sendiri masih bejat juga. Siang hari ini Tuhan sedang bercanda di tengah hujan. Karena saya tak percaya semua itu hanya kebetulan belaka.

Crazy Little Thing Called Love

Dikirim Uncategorized pada Januari 5, 2009 oleh Pencuri

cinta adalah sayap tanpa mata
yang membentang tanpa tepi
memeluk dan mengajakmu pergi

kau adalah penunjuk jalan baginya
bagi cinta yang selalu mendengar apa kata hati
karena cinta tak mungkin pergi sendiri

Happy New Year – Whatever It Means

Dikirim Uncategorized pada Januari 1, 2009 oleh Pencuri

2009. Saya masih di sini. Di depan komputer mendengarkan Free As A Bird dari The Beatles, lagu pertama yang saya dengarkan di tahun ini.

free as a bird
it’s the next best thing to be free as a bird

Di luar sana saya dengar kembang api mulai dinyalakan. Suaranya keras. Mereka sedang merayakan. Merayakan apa saya tak tahu dan tak mau tahu. Tahun baru buat saya sama saja dengan hari lainnya.

Di Palestina, saat ini mungkin banyak yang mendengar seperti apa yang saya dengar sekarang. Suara dan warnanya seperti kembang api. Tapi bukan kembang api melainkan tembakan peluru dari arah Israel.

Di sini berpesta. Di sana berdoa.

Di sini semua orang tumpah ruah di jalanan. Di sana setiap orang berlindung sebisa mungkin.

Happy new year, my friends. Whatever it means.

Hujan Akhir Desember 2008

Dikirim Uncategorized pada Desember 30, 2008 oleh Pencuri

aku suka hujan

aku suka sehabis hujan

aku suka saat hujan

aku suka hujan pagi hari

aku suka hujan saat aku di dalam mobil ditemani thom yorke

aku suka dibangunkan hujan

aku suka ditiduri hujan

aku suka hujan menyambutku saat aku keluar dari penjara the shawshank redemption bersama andy dufrense

aku suka bau hujan

aku suka suara hujan

aku suka hutan hujan

aku suka berpelukan dalam hujan, dramatis berlebihan

aku suka perpisahan dalam hujan dan kau tinggalkan jejak kakimu yang terakhir, wahai baran yang aduhai

aku suka bermain hujan, sentuhanmu serasa akupuntur

aku suka hujan menyentuh jendela merambat pelan bagai air mata rose menangisi jack

aku suka bertarung dalam hujan matrix revolution melawan neo untuk mendapatkanmu

aku suka mencurimu dalam hujan seperti saat oliver twist mencuri di rumah tuannya sendiri

aku suka kamu DiTa
kamu yang kehujanan
rambut basah kuyup
baju teles kebes
kamu menggigil kedinginan

aku suka itu semua karena kamu cantik dalam basah hujan

Membunuh Sepi dengan Sebilah Tajam Belati yang Berlumur Selai Roti

Dikirim Uncategorized pada Desember 22, 2008 oleh Pencuri

sampai di sini saja aku bisa mengantarmu. hari sudah mulai pagi. aku harus pergi.

aku tahu kau mencintaiku. tak kau ingatkah percintaan kita semalam?

aku tak bisa mengantarmu lebih jauh lagi. ufuk sudah mulai membara.

sudahlah, pelukanmu hanya akan menghambat jalanku pulang.

ya, aku akan merindukanmu. tentu saja. hanya saja matahari sudah hampir tiba. kita akan bertemu lagi malam nanti. aku janji.

“tak bisa kah kau tinggal di rumahku saja?”

tidak bisa, sayang.

“kenapa?”

karena aku bukan manusia. aku zombie yang terbakar matahari.

sebesar apapun cintamu tetap saja tak mampu melindungiku, wahai manusia cantik.

harus berapa kali ku katakan ini agar kau mengerti?