Oleh Kiki Raihan dan Andi Purwanto
Dari balik boks kaca aku mengintainya. Lelaki muda itu tampak begitu gagah dan memesona. Semangat dan kegelisahan masa mudanya menambah pikat dirinya. Ia tampak santai menikmati sore itu sendirian saja, berjalan kian kemari di toko buku terbesar di kota ini. Aku mengamatinya terpekur di depan tumpukan buku-buku terlaris tahun ini. Ia tampak mendengus bosan, lalu pindah ke deretan buku-buku impor. Ia mencomot sebuah buku, membolak-balik halamannya, membaca sinopsis di sampul belakangnya. Agak sulit juga aku menilik judulnya dari tempatku ini tapi akhirnya kuketahui ia tengah menekuri buku berjudul The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order. Francis Fukuyama. Entah siapa pula itu, aku tak terlalu peduli. Aku hanya ingin ia melihatku…lalu jika beruntung memilihku dan membawaku pulang. Aku hanya ingin merasa dimiliki. Aku kesepian disini.
Do’aku terjawab segera. Ia menghampiriku. Untuk pertama kalinya kami bertatapan langsung. Ia meminta untuk menyentuhku. Aku tergetar…sungguh tergetar. Setelah sekian lama aku nyaris mati bosan menanti seseorang sebagai kekasih atau sahabat, kesepian tak terjamah; kini seseorang datang dan menggenggamku. Suaranya nyaris tak terdengar, “Sangat sempurna. Ini yang paling cocok untukku,” kudengar ia seperti bergumam pada dirinya sendiri. Ia lantas berbicara pada salah seorang penjagaku dan lantas menyerahkan beberapa lembar uang kertas di tempat tak jauh dariku. Aku tersenyum. Aku tahu harga diriku. Aku tahu betapa mahalnya diriku dan betapa tidak sembarang orang bisa memilikiku. Aku suka laki-laki ini, ia punya selera yang baik terhadap apapun. Sama seperti ia memilihku karena aku selalu tampak berkelas dan elegan. Ia menimangku keluar dari boks kaca yang selalu membuatku merasa klaustrophobik, tak lama setelah kembali dari pengutip uang di boks pojokan sana. Aku melayang bahagia saat ia membisikkan namaku begitu penuh haru, “Montblanc Dostoevsky…akhirnya aku memilikimu!”
Sejak saat itu kami menjadi dua sahabat setia. Hampir kemanapun dia pergi, aku selalu mendampinginya. Biasanya aku berdiam di saku bajunya. Lengan emasku menjepit sakunya erat-erat, batu biru mataku selalu berkilat-kilat memandang dunia dari dada kirinya. Aku senang sekali berdiam disitu, dekat dengan jantungnya yang selalu berdegup oleh gairah kehidupan. Tuanku ini, dia lelaki yang amat bersemangat. Ia seorang mahasiswa sipil tingkat akhir di sebuah institut teknologi negeri paling ternama di negeri ini. Ia begitu cerdas dan cemerlang. Dosen-dosennya banyak meminta ia bergabung dengan proyek-proyek nasional yang mereka kerjakan. Pada akhirnya aku tahu ia menebusku dari kotak kaca itu dengan uang hasil proyekan terakhir dengan dosennya. Proyek itu lumayan menghasilkan keuntungan yang besar, sehingga ia lalu memutuskan untuk sedikit memanjakan dirinya. Apalagi waktu itu ia baru saja lulus dengan nilai memuaskan. Aku ingat betapa tangannya gemetar bahagia saat mengulir tubuhku, menandatangani ijazahnya.
Tuanku itu bukan mahasiswa kaya, ia hidup dari beasiswa, ia hidup dari uang yang ia peroleh dengan cara mengerjakan tugas-tugas teman-temannya; bahkan juga tugas-tugas orang yang bukan temannya dan tidak pernah ia kenal sama sekali. Begitu selesai menghitung lembaran uang hasil perah otaknya, ia bergegas menebusku. Ia juga membeli beberapa buku bermutu, beberapa tebal-tebal, beberapa tipis-tipis, tapi kutahu mereka semua orang-orang terkenal. Nietzsche, Baudrillard, Kundera, Vonnegut, Chomsky, Shihab dan ehmmm, Dostoevsky. Ya, Fyodor Dostoevsky. Sama seperti namaku. Tentu saja. Di saat kelahiranku, orangtuaku menamaiku seperti nama penulis terkenal asal Rusia itu. Secara terbatas, aku memiliki beberapa kembaran dengan nama sama. Montblanc, orangtuaku, memang sengaja mermilih beberapa nama pengarang terkenal sebagai nama anak-anak mereka. Sepupu-sepupuku bernama Edgar Allan Poe, Agatha Christie, Hemingway – si kulit merah, Faulkner dan masih banyak lagi. Kebetulan, tuanku baru saja membeli buku tulisan Dostoevsky yang berjudul “Kejahatan dan Hukuman”. Ia begitu terpengaruh dan larut dengan pergulatan batin tokoh Raskolnikov dalam cerita itu. Raskolnikov yang mahasiswa kere akhirnya membunuh perempuan tua lintah darat yang biasa mengutanginya. Meski awalnya berkilah bahwa sah saja membunuh seorang benalu masyarakat, toh ia akhirnya bertobat juga dan menemukan jati dirinya melalui cinta seorang pelacur belia bernama Sonia. Tuanku selalu berkata, all fair in love and war. And life is a war. So, all fair in life.
Satu benda lagi yang ia beli adalah selingkar cincin emas putih bermata berlian. Ia melamar kekasihnya yang sudah dua tahun ini dipacarinya. Sekali lagi harus kukatakan, seleranya memang sungguh tinggi dan berkelas. Perempuan itu cantik sekali, cerdas sekali, kaya sekali dan bapaknya jenderal yang sungguh berpengaruh sekali. Ia adalah adik kelas tuanku dari jurusan yang berbeda meski masih dalam naungan satu fakultas. Kecerdasan dan kepercayaan diri tuanku saat berorasi di depan massa saat menggulingkan orang nomer satu di negeri ini telah menawan hatinya telak-telak meski ayahnya tidak mengijinkannya. Aku ingat bagaimana tuanku mengisi tubuhku dengan cartridge merah anggur edisi valentine dan menulisi gadisnya sebuah surat lamaran yang begitu indah dan menyentuh. Dapat kurasakan gelora cintanya berkeretap membakar sekujur kilap tubuh hitamku. Perasaannya menjelma deretan aksara dan kata yang meruapkan wangi asmara. Aku sungguh merasa tersanjung telah dipercaya untuk menyampaikan isi hatinya pada wanita yang agung itu. Masih terkenang olehku genangan air mata haru di pelupuk gadis itu saat membaca surat tuanku, sebelum akhirnya ia melompat memeluk tuanku dengan suka cita. “Aku mau…demi Tuhan aku mau menikah denganmu, sayang!” Di tangannya masih tergenggam lembaran putih gading dengan deretan kalimat merah anggur yang kutuliskan malam sebelumnya.
Mereka menikah setengah tahun kemudian dalam sebuah pesta mewah yang diselenggarakan oleh mertua tuanku. Lagi-lagi aku dipercaya menjadi juru bicara yang mengejawantahkan maksud hatinya. Aku yang menulisi surat permohonan ijin menikah yang sangat sopan dan takzim untuk sang jenderal ayah gadisnya. Aku juga masih ingat sorot mata sang jenderal itu ketika membaca surat itu. Ia teringat masa mudanya sendiri saat melamar ibu sang gadis. Mertuanya; kakek sang gadis, dulu juga tak mengijinkannya. Mereka takut anaknya cepat jadi janda karena sering ditinggal-tinggal bertugas ke berbagai medan yang berbahaya. Tapi ia nekat, ia berpikir asalkan ia sopan dan menunjukkan niat baik, tentunya tak ada alasan buat keluarga gadisnya untuk menolaknya. Jenderal yang galak itu, sorot matanya meneduh dan penuh welas asih membaca kalimat demi kalimat penuh kerendahan hati warna hitam kebiruan yang kutuliskan semalam sebelumnya. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata pada tuanku, “Aku tahu, anakku akan berada dalam lindungan tangan yang tepat. Tolong bahagiakanlah dia,” lalu tangannya terulur mendekap erat tuanku penuh haru. Lembaran surat itu masih tergenggam di tangannya yang kokoh.
Demikianlah aku bertugas menulisi orangtuanya di bumi Andalas dan mengabarkan pernikahannya. Aku dipercaya mengikatkan kontrak janji sehidup semati mereka di atas sepasang buku nikah, aku dipercaya menuliskan data dirinya saat mendaftar beasiswa ke Berkeley di negeri Paman Sam, hampir dua tahun setelahnya aku menandatangani surat ijazah yang lain lagi. Ijazah berbahasa asing. Aku menggoreskan tinta hitam kebiruanku dalam bentuk tanda tangannya diatas berbagai kontrak dan proyek yang ditanganinya. Ketika ia pada akhirnya menjadi begitu sukses, ia tetap setia padaku. Tak pernah sekalipun ia lirik pena lainnya. Beberapa kali ia pernah berkata pada teman atau rekanannya, aku adalah semacam “lucky charm”-nya. Setiap kali tintaku sudah terasa mulai mengering, ia akan mulai membeli cartridge-cartridge tinta yang baru. Aku juga tidak lagi berdiam di kantung kemejanya, melainkan di jas wol mahal yang sekarang hampir setiap saat dikenakannya. Betapa bangga aku menjadi bagian dari perjalanan sukses tuanku ini.
Namun sayang, entah mengapa belakangan ini sikap tuanku sedikit berubah. Hmm, aku salah. Kurasa ia berubah banyak. Siang ini adalah kali kesekian aku menandatangani mark up sebuah proyek. Semacam begitulah. Yang kutahu, mereka tengah membangun bendungan di atas sebuah lahan maha luas bekas daerah pertanian. Mereka membayar ganti rugi pada para petani di sana dengan sangat murah secara paksa. Aku tahu tuanku menganggap pengorbanan macam itu perlu demi kepentingan yang lebih besar lagi. Ketika para petani itu mulai berdemo, tuanku sempat menulis memo memohon bantuan pada mertuanya untuk membantu menertibkan mereka. Demi kepentingan rakyat itu sendiri, demikian tulisnya. Ia juga menuliskan beberapa nama yang menurut dugaannya adalah dalang dari demo itu. Aku bergidik ngeri ketika setelah terdiam beberapa saat, tinta dari tubuhku menuliskan memo pada mertuanya agar beliau membantunya, “Mungkin Papi bisa sedikit memperingatkan mereka agar diam atau mungkin papi punya cara lain yang lebih efektif untuk membungkam mereka? Ananda akan sangat berterima kasih, Pi.”
Sejak kelahiran anaknya yang ketiga, aku jarang melihat gadis manis yang kini menjadi istri tuanku. Batu biru mataku semakin jarang melihat rumahnya yang mewah. Aku sesungguhnya amat rindu menuliskan bait-bait cinta seperti dulu lagi. Aku lebih suka mengguratkan larik-larik puitis ketimbang menandatangani surat dan kontrak ini-itu yang berhubungan dengan pekerjaan. Aku mulai merasa lelah dan muak dengan apa yang kukerjakan sehari-hari kini. Dulu, aku merasa begitu hidup, idealis dan juga berharga. Dulu, aku menuliskan perasaan yang tulus, aku mengungkapkan rasa, aku menuliskan catatan-catatan pemikiran tuanku yang sungguh dahsyat. Renungan-renungannya atas berbagai peristiwa kehidupan, ide-idenya seputar pekerjaannya, sketsa-sketsa spontannya saat sendirian memandangi kemegahan alam. Kini ia lebih banyak asyik sendiri. Ia jarang menulis lagi, paling-paling ia mendiktekan pada sekretarisnya untuk kemudian diketik di komputer dan diprint. Kadang ia mengirimkan surel pada beberapa temannya di lain kota atau negara. Untuk keluarganya, ia lebih banyak mengirinkan pesan singkat melalui ponsel. Tintaku sudah nyaris sekarat dan tuanku bahkan tampaknya tidak terlalu menyadari itu sekarang. Biasanya dari jauh hari ia sudah menyiapkan cadangan cartridge. Sekarang tidak lagi.
Aku kehilangan momen-momen dimana aku amat menikmati sorot mata mereka yang menggenggam surat dan membaca baris-baris kalimat yang keluar dari tubuhku. Aku sempat gede rasa ketika tiba-tiba tuanku menulis surat cinta lagi. Kupikir, pastilah ia akhirnya rindu pada masa lalu juga. Ia kangen pada masa-masa jatuh cinta pada istrinya. Benarlah, ia kangen jatuh cinta. Sayangnya bukan pada istrinya melainkan pada orang lain.
Di atas meja konsol marmer dalam gelap di kamar asing yang mewah ini, kilat mata biru batuku dapat menangkap dengan jelas perbuatan mesum tuanku dan kekasih barunya di ranjang seberang mejaku itu. Seorang gadis baru mentas SMA yang ditemuinya di lapangan golf telah menawan hatinya. Aku jadi teringat Sonia, pelacur bawah umur dalam buku “Kejahatan dan Hukuman”-nya Dostoevsky. Entah kenapa.
Gadis itu begitu lugu, manis, seksi dan tentunya, tidak bawel mengeluh ini-itu padanya. Begitu penurut pula, ia selalu manut saja dengan apa yang disuruhkan tuanku. Beberapa kali gadis itu mengeluh bahwa aku menyakitinya, ketika tuanku lupa meletakkanku saat hendak berbaring di atas tubuh remajanya yang melicin pualam. Biasanya beberapa menit kemudian aku akan ikut terhempas atau terlempar ke lantai bersama jas, kemeja dan celana yang saat itu dikenakan tuanku. Teronggok tanpa daya. Meski di alam bebas, rasanya seperti kembali ke kotak kaca di toko buku tempat kami pertama kali bertemu dulu. Kesepian, tak diinginkan dan tak berguna.
Setelah sepuluh tahun lebih bersama tuanku mengarungi kehidupan, rasanya aku telah demikian menyatu dengannya. Apalagi ia selalu mendekatkanku pada jantungnya. Rasanya jika disuruh bergerak dan menulis sendiri, aku yakin aku akan bergerak mengikuti gerak irama tangan tuanku saat menulis. Demikian pula hentakan dan ketukannya, demikian pula gaya bahasanya. Kedekatan kami bukan lebih dari sekedar teman kerja, aku bukan sekedar pena baginya. Dia juga bukan sekedar tuan bagiku. Kami ini adalah bagian dari satu sama lain. Aku menyimpan begitu banyak perasaan dan rahasianya.
Hmmm, tiba-tiba saja aku jadi kepingin menulis ulang semua tulisan-tulisan penting yang pernah kutulis. Sebuah pena tak mungkin bisa menulis sendiri, tapi apalah yang tidak mungkin bisa kita perbuat kalau kita punya keyakinan? Kebetulan sekali buku agenda berkulit sapi milik tuanku yang mewah itu tergeletak di sampingku. Halaman-halamannya kebanyakan kosong dan sepi. Ia hadir disini sebagai formalitas. Kado dari gadis manis yang kini jadi ibu ketiga anaknya agar ia kembali rajin menulis seperti ketika mereka masih kuliah dulu. Tapi sebenarnya tuanku lebih suka mencatat kegiatannya di Blackberry-nya yang canggih. Aku melirik ke ranjang, tuanku masih sibuk dengan gadis belia mainan barunya. Aku bergulir menyentuh bahu agenda kulit sapi itu, ia mengangguk pelan ketika setengah berbisik aku bertanya, “Bolehkah aku menulisimu?”
Aku semakin bersemangat menulis setiap melihat kolom tanggal yang masih kosong di tubuh agenda kulit sapi itu. Aku membiarkan diriku mengalir bergerak begitu saja, menuliskan kenangan-kenangan yang masih melekat kuat akan peristiwa di tiap tanggal tersebut. Manis, pahit, getir, lucu semua kutulis disitu. Aku hanya menyampaikan apa yang pernah dialami atau dirasa oleh hati tuanku. Semua tuntas kutulis disitu tanpa kututup-tutupi. Segala kontrak, segala bentuk kerja sama, segala pembelian, pendapatan dan pengeluaran juga hadiah-hadiah yang diterima tuanku; mobil, kapal, komisi, perempuan, uang dan akses pada kekuasaan. Kutulis semuanya sebagai bentuk penghargaanku terhadap diriku sendiri, sang agenda kulit sapi dan waktu serta kenangan itu sendiri. Kami bertiga lelah telah terlalu lama dibengkalaikan oleh tuanku.
Aku terus menerus menulis sampai tinta biru hitamku yang sudah tinggal sedikit itu makin seret. Aku masih terus menulis meski langkahku makin tertatih-tatih dan goresan huruf itu tak lagi sepenuhnya jelas. Aku tak peduli. Aku dan si agenda kulit sapi begitu bersuka cita dan larut dalam ekstase. Aku tengah menuliskan kisah tentang pernikahan siri tuanku dengan gadis baru mentas SMA itu seminggu yang lalu ketika tiba-tiba dari arah ranjang kudengar suara teriakan kaget dan marah seorang lelaki. Tuanku. Kilatan batu biru mataku menangkap bayangan seorang lelaki telanjang melompat dari tempat tidur dan menerjang meja marmer tempatku menulisi lembar-lembar kosong di tubuh agenda kulit sapi.
Apa-apaan ini?! Bagaimana mungkin penaku bisa menulis sendiri?!!, ”
suaranya menggelegar memenuhi presidential suit hotel bintang lima berlian ini.
“Hentikan!! Stop!! Stop!!,” belum pernah kudengar suaranya sepanik itu. Ia berusaha menumbangkanku keluar dari arena, mengambilku dengan paksa namun sia-sia. Aku dan si agenda kulit sapi berpelukan erat, tak ingin lagi dipisahkan. Meski teramat takut dan lelah, aku malah menulis semakin cepat lagi, lagi dan lagi bagai menceracau. Kedua tangan tuanku menggenggam tubuhku kuat-kuat, ia masih berteriak-teriak menyuruhku berhenti dan berusaha memisahkanku dari sang agenda kulit sapi. Kekasihnya yang belia itu ikut berteriak-teriak panik dan ketakutan. Tuanku menyuruhnya untuk ikut mengerahkan tenaga menarik tubuhku dari sang agenda. Agenda kulit sapi itu memelukku erat dan menyemangatiku, “Sedikit lagi kawan…sedikit lagi dan kita berdua akan moksa!”. Mereka makin kuat berusaha menghentikanku. Urat-urat bertonjolan keluar dari leher dan tangan mereka berdua, wajah mereka meringis saat mereka berusaha menarikku.
Aku sudah hampir usai sebenarnya ketika tuanku dan kekasihnya berhasil menarikku lepas dari sang agenda kulit sapi. Aku marah sekali, berani-beraninya mereka mencoba menghentikanku! Segalanya lantas terjadi begitu cepat. Tangan tuanku bergerak tak terkendali saat ia terjengkang ke belakang cukup jauh. Kekasihnya juga terjengkang kebelakang seperti tuanku. Lalu hal terakhir yang kuingat adalah kemarahan lantas mengarahkan runcing tubuhku untuk menghujam dan mengerat hangat leher tuanku. Darah menyembur deras dan memancar bak air mancur dari lehernya. Matanya membeliak, mulutnya menganga dan tiba-tiba banjir darah. Tangannya dan kekasihnya masih menggenggam erat tubuhku. Darah menguyupi tubuh mereka yang telanjang, darah merembes lekas-lekas di bed cover dan lantai karpet empuk di bawah mereka, darah juga menyatu dengan keringat laknat di tubuh mereka. Tubuhnya menggelepar bagai ikan yang terkail. Ia mengorok bagai kambing kurban yang tersembelih. Kekasihnya menangis dan meraung histeris tak ketulungan. Antara takut kehilangan suami, takut darah, takut ketemu polisi dan dijadikan saksi atau terdakwa dan tentunya takut terjerat aib skandal.
Aku sendiri tergeletak lelah di sebelah leher tuanku. Tinta hitam biruku yang sudah sedemikian seret kini memerah darah. Tapi diam-diam aku puas. Aku memandangi nganga leher tuanku. Aduh,maaf aku sungguh tak sengaja, tuan. Sungguh! Kau tahu sendiri bagaimana aku selalu menyayangi dan setia padamu. Bahkan kinipun kurasa kita akan mati bersama. Dapat kurasakan detak riwayatku sudah hampir sampai di akhir. Kita berpisah disini.Mungkin kau akan transit sebentar di kamar jenazah dan mengalami otopsi sebelum dimakamkan. Dan aku, aku kembali ke keterasingan macam di kotak kaca ketika kita pertama kali bertemu dulu. Aku tahu aku akan berakhir di penjara transparan yang lebih menyiksa dari kotak kaca dulu. Dari dulu aku memang tak pernah suka plastik dengan klip. Apalagi jika harus teronggok dalam lemari yang gelap. Yah, anggap saja itu upayaku menebus dosa. Setidaknya kita senasib. Kau dimakamkan berkalang tanah dan aku, dimakamkan dalam lemari arsip bukti polisi. Selamat tinggal, selamat jalan, tuan. Terima kasih untuk segalanya. Aku selalu menyayangimu, sampai maut memisahkan kita.

0 Tanggapan ke “PENGAKUAN DOSTOEVSKY”