Arsip untuk Kategori 'Cerpen'

21
Agu
09

Negeri Seribu Poster

Cerpen Oleh : Andi Purwanto dan Kiki Raihan

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya pagi ini bus yang membawaku beserta serombongan wisatawan lainnya tiba di Negeri Seribu Poster. Baru saja memasuki gerbang selamat datang negeri ini aku sudah tahu mengapa negeri ini disebut dengan Negeri Seribu Poster. Di kanan kiri yang kulihat hanya poster-poster yang menempel di pohon-pohon. Jumlahnya banyak sekali sampai-sampai membuat sebuah pohon yang lumayan besar hanya terlihat helai-helai daunnya karena seluruh batang dan rintangnya ditempeli poster-poster.

Tak berapa lama bus mulai memasuki bagian kota dari Negeri Seribu Poster. Di kota lebih gila lagi. Poster ada di mana-mana. Tidak hanya di pohon-pohon tapi juga di bus kota, tembok rumah penduduk, gedung perkantoran, mal-mal, rumah makan, pasar, tiang listrik, tiang lampu lalu lintas, bahkan tempat sampah. Ternyata tidak hanya poster saja yang banyak ditemui di negeri ini tapi juga bendera warna-warni yang dikibarkan di manapun bisa dikibarkan.
Lanjutkan membaca ‘Negeri Seribu Poster’

19
Agu
09

PENGAKUAN DOSTOEVSKY

Oleh Kiki Raihan dan Andi Purwanto

Dari balik boks kaca aku mengintainya. Lelaki muda itu tampak begitu gagah dan memesona. Semangat dan kegelisahan masa mudanya menambah pikat dirinya. Ia tampak santai menikmati sore itu sendirian saja, berjalan kian kemari di toko buku terbesar di kota ini. Aku mengamatinya terpekur di depan tumpukan buku-buku terlaris tahun ini. Ia tampak mendengus bosan, lalu pindah ke deretan buku-buku impor. Ia mencomot sebuah buku, membolak-balik halamannya, membaca sinopsis di sampul belakangnya. Agak sulit juga aku menilik judulnya dari tempatku ini tapi akhirnya kuketahui ia tengah menekuri buku berjudul The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order. Francis Fukuyama. Entah siapa pula itu, aku tak terlalu peduli. Aku hanya ingin ia melihatku…lalu jika beruntung memilihku dan membawaku pulang. Aku hanya ingin merasa dimiliki. Aku kesepian disini.

Do’aku terjawab segera. Ia menghampiriku. Untuk pertama kalinya kami bertatapan langsung. Ia meminta untuk menyentuhku. Aku tergetar…sungguh tergetar. Setelah sekian lama aku nyaris mati bosan menanti seseorang sebagai kekasih atau sahabat, kesepian tak terjamah; kini seseorang datang dan menggenggamku. Suaranya nyaris tak terdengar, “Sangat sempurna. Ini yang paling cocok untukku,” kudengar ia seperti bergumam pada dirinya sendiri. Ia lantas berbicara pada salah seorang penjagaku dan lantas menyerahkan beberapa lembar uang kertas di tempat tak jauh dariku. Aku tersenyum. Aku tahu harga diriku. Aku tahu betapa mahalnya diriku dan betapa tidak sembarang orang bisa memilikiku. Aku suka laki-laki ini, ia punya selera yang baik terhadap apapun. Sama seperti ia memilihku karena aku selalu tampak berkelas dan elegan. Ia menimangku keluar dari boks kaca yang selalu membuatku merasa klaustrophobik, tak lama setelah kembali dari pengutip uang di boks pojokan sana. Aku melayang bahagia saat ia membisikkan namaku begitu penuh haru, “Montblanc Dostoevsky…akhirnya aku memilikimu!”
Lanjutkan membaca ‘PENGAKUAN DOSTOEVSKY’

18
Mar
09

Kepada Dian

She looks like the real thing

She tastes like the real thing

My fake plastic love

But I can’t help the feeling

KEPADA DIAN Written, Produced, & Directed by Andi Purwanto

Dian tercinta, Tujuh tahun sudah sejak kau dan kapal pesiarmu merapat untuk pertama kalinya di pelabuhan kecilku. Sejak saat itu pula tak bisa kuhindari rasa cinta yang amat sangat kepada dirimu. Pernah kucoba menampik kenyataan itu dengan pergi memancing ikan, menyelam memandangi karang, berlarian di sepanjang pantai, minum kelapa muda sampai mabok, ataupun membangun istana pasir tapi hal itu sia-sia saja karena pesonamu telah menyedot sebagian besar perhatianku di pelabuhan kecil itu. Tetap saja tak bisa ku enyahkan kenyataan bahwa aku tergila-gila kepadamu.

Dian, andai saja kau tahu….. mmmh atau lebih tepatnya lagi andai saja aku lebih berani mengayuh perahu kecilku menembus badai terbesar menuju rumah pantaimu dan mengatakan semuanya padamu. Tapi aku tak punya keberanian itu. Bukan karena aku takut pada badai terbesar itu tapi aku lebih khawatir pada kesiapan perahu kecilku yang malang itu. Kau tahu sendiri kan bagaimana keadaannya? Aku hanya bisa berusaha dan berdoa agar bisa membeli kapal sungguhan yang pada saatnya nanti mampu menembus badai terbesar yang membentang di antara aku dan rumah pantaimu. Tapi saat itu tak juga kunjung tiba.
Lanjutkan membaca ‘Kepada Dian’

22
Des
08

Membunuh Sepi dengan Sebilah Tajam Belati yang Berlumur Selai Roti

sampai di sini saja aku bisa mengantarmu. hari sudah mulai pagi. aku harus pergi.

aku tahu kau mencintaiku. tak kau ingatkah percintaan kita semalam?

aku tak bisa mengantarmu lebih jauh lagi. ufuk sudah mulai membara.

sudahlah, pelukanmu hanya akan menghambat jalanku pulang.

ya, aku akan merindukanmu. tentu saja. hanya saja matahari sudah hampir tiba. kita akan bertemu lagi malam nanti. aku janji.

“tak bisa kah kau tinggal di rumahku saja?”

tidak bisa, sayang.

“kenapa?”

karena aku bukan manusia. aku zombie yang terbakar matahari.

sebesar apapun cintamu tetap saja tak mampu melindungiku, wahai manusia cantik.

harus berapa kali ku katakan ini agar kau mengerti?




Stalk Me

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Hi There !

http://bengawan.org/