Siang hari ini, di tengah perjalanan, hujan deras menghampiri. Saya menepi untuk memakai mantel hujan. Seorang ibu juga menepi di depan saya.
Saat saya memakai mantel hujan di tengah hujan yang semakin mengganas, saya lihat ada yang aneh di motor ibu itu. Satu sekrup di plat nomor bagian belakang hilang sehingga plat nomer itu hampir lepas.
“Bu, plat nomernya hampir lepas tu. Eman-eman kalo sampe jatuh”
Di tengah usahanya memakai mantel hujan, si ibu melihat plat motornya yang menggantung hampir lepas.
“Oh iya, makasih mas”
“Dilepas sekalian aja bu, ntar dibenerin di rumah”
“Iya mas”
Ibu itu lalu berjongkok di belakang motornya untuk melepas satu sekrup yang tersisa di plat nomornya.
“Bisa nggak bu?”
“Bisa mas, makasih”
“Ya bu, saya duluan ya”
“Mari mas”
Hampir saja saya melaju dengan kecepatan supersonik untuk menembus hujan lebat kalo saja ibu itu tidak memanggil saya.
“Mas, tunggu !!!”
Saya berhenti lagi.
“Apa bu?”
“Itu plat nomernya juga hampir lepas”
Si ibu menunjuk plat nomor saya yang bagian belakang. Saya liat plat nomor saya, ah benar juga. Sekrupnya masih lengkap tapi satu murnya hilang membuat plat nomer ini tidak terpasang dengan benar, pantesan aja dari tadi ada suara aneh di motor saya.
Begitulah cara Tuhan melawak. Saya sering menyuruh teman atau orang lain untuk menjadi benar tapi saya sendiri masih bejat juga. Siang hari ini Tuhan sedang bercanda di tengah hujan. Karena saya tak percaya semua itu hanya kebetulan belaka.